Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Menjadi Lebih Baik sambil Terus Bersahaja

Gambar
Banyak hadits yang melarang ujub dan riya dalam beramal baik, begitupun mencari ilmu dengan tujuan popularitas dan punya massa banyak. Kegemaran seperti itu menjadi godaan yang sangat berat bagi seseorang. Karena popularitas dan banyaknya massa itu menjanjikan kesenangan dan kepuasan yang dapat melalaikan hati dan pikiran terhadap tuhan.   Ihlas, tidak ujub dan riya saat berbagi pengetahuan atau memberi petunjuk jalan hidayah, atau menghadiahkan kegembiraan dan kebahagiaan kepada orang lain, ini lebih mudah diperoleh jika seorang berada pada keadaan atau kondisi yang jauh dari ingar bingar ketenaran dan nikmatnya popularitas.   Ibnu ‘Athaillah Assakandari menggambarkan, biji tumbuhan yang tidak ditanam di dalam tanah, hasilnya bisa mengecewakan bahkan bisa tidak tumbuh samasekali. Sebuah amal baik agar bisa diterima oleh Allah maka harusnya disembunyikan dalam hati. Sebab menyembunyikan amal baik itu lebih mudah meraih keikhlasan.   ادْفِنْ وُجودَكَ في أَرْض الخُمولِ فَما...

Waktu Niat Korban

Gambar
Korban tidak sah tanpa adanya niat, karena korban termasuk bentuk ibadah qurbah (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah). Sesuai dengan sabda Rasulallah SAW dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, “ Hanyasanya sahnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap sesuatu itu tergantung pada niatnya ”. Kemudian kapan niat itu harus di laksanakan? Dalam hal ini, seperti pernyataan dalam kitab al-Majmu’ Syarah Muhazhzhzab (juz 7, hal. 405-406, Maktabah Syamilah), ada dua wajah, 1). Niat korban boleh didahulukan sebagaimana niat puasa dan zakat, 2). Harus bersamaan dengan saat menyembelih hewan Kurban seperti niat sholat dan wudlu. Di antara dua wajah tersebut yang Ashoch (lebih benar) adalah wajah yang pertama, yaitu, niat boleh didahulukan sebagaimana niat puasa dan zakat. Artinya, jika niat sudah di dahulukan maka ketika menyembelih hewan kurban tidak perlu lagi niat. Lebih lanjut dalam kitab al-Majmu’ tersebut dituturkan, Seandainya ada orang bila...

Belajar Dari Kematian

Gambar
Konon, ada seorang raja yang sedang menempuh perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain memasuki perahu satu demi satu, tiba-tiba ada angin topan menderu. Anak kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan keselamatan. Selama itu sang raja duduk tenang, sambil sesekali mencoba menenangkan penumpang lain. Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenang raja itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung. Salah seorang bertanya kepadanya, " Apakah Tuan tidak menyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yang lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan kita dari maut? " " Iya, " jawab raja itu. " Saya tahu, di laut biasa terjadi itu. Tetapi saya juga menyadari bahwa di daratpun jika kita renungkan ", lanjut raja,...