Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Pengaruh Akut Ghibah

Gambar
Kecenderungan seseorang yang sedang marah atau kecewa dengan orang lain adalah bercerita dan mengungkap keburukan orang tersebut. Inilah perilaku yang biasa dilakukan oleh seseorang dengan sadar atau tanpa sadar, padahal itu termasuk maksiat. Namun seperti hal yang lumrah dan ringan. Bahkan terkadang bisa berkembang kepemberitaan kabar yang tidak benar, membuat perkataan yang tidak jujur dan melakukan kebohongan-kebohongan yang disengaja juga ditambah dengan ujaran-ujaran kebencian, guna menutupi kekurangannya sendiri. Pendengar yang sepemikiran atau sehaluan akan langsung mengamini (nguntal malang) tanpa klarifikasi kebenaran sejatinya terlebih dahulu. Padahal kanjeng Nabi SAW dawuh "Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang dia dengar." (HR. Muslim. Syarhun Nawawi 1/67). Di era digital sekarang ini, laju informasi tak lagi bisa dibendung dan disaring, membanjiri setiap Hp pengguna medsos, tidak jelas kebohongan atau kebenaran...

Hukum Takbiran di Selain Hari Raya

Gambar
Bacaan “takbir” yang lazimnya dikenal dalam hari lebaran (Iedul Fithri dan Iedul Adlha) merupakan bacaan dzikir yang disyariatkan dalam rangkaian mengagungkan Allah SWT. Ada dua istilah takbir dalam hal ini, yaitu, Takbir Mursal (Takbir Iedul Fithri) adalah takbir yang tidak harus dibaca setelah melaksanakan sholat baik fardu maupun sunnah. Takbir ini disunahkan pada setiap waktu, di mulai dari terbenamnya matahari malam iedul fithri sampai imam melakukan takbirotul ihromnya sholat iedul fithri. Takbir Muqayyad (Takbir Iedul Adlha) yaitu takbir yang dibaca setelah melaksanakan sholat baik fardu maupun sunnah. Waktunya di mulai dari setelah subuhnya hari Arafah (9 dzulhijjah) sampai Ashar akhir hari Tasriq (13 Dzulhijjah). Kalau bacaan takbir tersebut dikumandangkan pada har-hari yang tidak disyari’atkan seperti keterangan di atas, bagaimana hukumnya? Seperti disebutkan dalam kitab Nihayatul Muhtaj, bahwa Imam An-Nawawi dalam kitab ar-Raudloh mengutip perkataan Imam al-Haramain , bahwa...

Tawasul Tradisi Sahabat, Ulama dan Mayoritas Umat Islam

Gambar
Berdo’a dengan bertawassul atau berperantara amal sholih, Nabi atau Wali menurut kebanyakan Ulama tidaklah bid’ah, syirik atau kufur, Imam Alhafidz Taqiyyudin Assubuki menegaskan bahwatawassul, isighotsah, isti’anah, istisyfa’ dan tawajjuh, memiliki makna dan hakekat yang sama. Menurut pendapat mayoritas ulama bahwa devinisi tawassul dan istilah-istilah lain seperti diatas adalah, طَلَبُ حُصُوْلِ مَنْفَعَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ مَضَرَّةٍ مِنَ اللهِ بِذِكْرِ اسْمِ نَبِيٍّ أَوْ وَلِيٍّ إِكْرَامًا لِلْمُتَوَسَّلِ بِهِ . (الحافظ العبداري, الشرح القويم, ص/٣٧٨)   “Memohon datangnya manfaat atau terhindarnya bahaya kepada Allah dengan menyebut nama seorang Nabi atau Wali untuk memuliakannya”.(Alhafidz Al’abdari dalam Assyarhul Qowim, hal. 378).  Ide dasar dari tawassulini adalah, kebiasaan Allah swt dalam menetapkan urusan-urusan di dunia ini terjadi berdasarkan hukum kausalitas atau hukum sebab akibat. Padahal Allah swt maha kuasa mewujudkan akibat tanpa adanya sebab, misalnya saja,...

Akulturasi. Bid’ahkah...?

Gambar
Entah apa sebabnya, salah pemahaman, salah pendidikan, salah lingkungan, salah pergaulan, atau hanya ikut-ikutan?. Yang pasti mereka hobi bener membid’ahkan, mensyirikkan, dan mengkufurkan orang-orang islam yang tidak sepaham dengan mereka, sebut saja diantaranya adalah praktek ajaran yang diterapkan NU, seperti, Yasinan, tahlilan, dibaan, manaqiban, ziarah wali songo dan lain sebagainya. Sepertinya, jika islam dipahami dari ajaran-ajaran mereka, islam tidak lagi rahmatal lil ‘alamin, islam tidak lagi pembawa misi perdamaian, islam tidak lagi pembawa misi persatuan dan ahlaqur karimah. Dr. KH. A. Hasyim Muzadi, pernah di Tanya tentang akulturasi. Apakah itu Syirik , Sesat?. Beliau menjawab. Mengapa Nahdlotul Ulama’ menjadi mayoritas di Indonesia?. Ini karena pendekatan yang dipakai Nahdlotul Ulama’ adalh lewat akulturasi, tidak lewat perebutan kekuasaan dan tidak melalui konflik. Karena kalau lewat perebutan kekuasaan, nilai-nilai islam akan sulit membudaya di Indonesia. Se...

Penjelasan Hadits “Kullu Bid’atin Dlolalah”

Gambar
Mengumpulkan dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf, memberi titik dan mengharokati Al-Qur’an, mengumpulkan dan menulis hadits, sholat trawih berjama’ah 20 rokaat, dua kali adzan dalam Shalat Jumat, membangun madrasah dan sekolahan, belajar ilmu nahwu, ilmu shorof dan lain-lain. Semua itu tidak pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw. Apakah lantas hal-hal baru dalam urusan agama seperti itu, tergolong bid’ah dlolalah?. Apakah belajar membaca Al-Qur’an dengan metode-metode yang tidak ada pada zaman Rasulullah saw, seperti metode Bagdadiyyah, Yambu’a atau Qiro’ati juga bid’ah dlolalah?. Alangkah dangkal dan sempitnya ajaran islam, jika setiap hal baru dalam urusan agama divonis sebagai bid’ah dlolalah, bid’ah yang sesat. Padahal hadits “Kullu Bid’atin Dlolalah”. Lafadz Kullu Bid’atin sama dengan lafadz Kulla Safinatin dalam firman Allah swt, surat Al-Kahfi, ayat 79. وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا . Dalam ayat tersebut Allah swt tidak menyebutkan kapal baik atau...