“Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” (QS. Hud: 48).
Setidaknya ada beberapa reaksi dari seseorang yang belum pernah merasakan berkah, yang pertama, seperti penasaran kemudian berusaha sepenuh hati ingin merasakannya, kedua, tidak mau tahu (cuek), dan ada yang ketiga, yaitu tidak penasaran, tetap cuek dan menganggap bahwa berkah itu impossible.
Reaksi ketiga ini kadang diiringi dengan anggapan sendiri bahwa dia-lah yang masuk akal, sementara orang yang percaya adanya berkah dan pernah merasakannya dia anggap sekumpulan orang bodoh bin tolol. Padahal orang-orang yang percaya adanya berkah jelas selangkah lebih manusiawi daripada dia.
Orang yang tidak percaya adanya berkah dan menganggapnya impossible ini juga cenderung menuduh orang-orang yang percaya adanya berkah dan pernah merasakannya sebagai sekumpulan orang yang tertipu oleh jargon-jargon agama dan iming-iming khoyali. Tidak pernah merasakan, tapi menilai. Mungkin sudah bisa dibayangkan bagaimana penilainnya. Tentu tidak proporsional.
Lebih picik lagi kalau penilainnya muncul dari orang-orang yang iri bin dengki, maka apapun penjelasan tentang berkah, dia anggap sebagai penipuan spiritual, penipuan yang mengatas namakan agama demi mendulang kekayaan pribadi, bla…bla…bla. Na’uzhu billaahi min zhalik. Wa allohu a’lam bis-showab.
Ayah Nabi Yusuf yaitu Nabi Ya'qub Ngalap Berkah dengan Baju Nabi Yusuf
ٱذْهَبُوا۟ بِقَمِيصِى هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِى يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِى بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ
Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.” (QS. Yusuf: 93).
Rasulullah Ngalap Berkah dari Tempat Wudhu Umat Islam
عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ؟ فَقَالَ : ” لا ، بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ، إِنَّ دِينَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ ” ، قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ ، فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ ، فَيَشْرَبُهُ ، يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ
“Diriwayatkan dari Ibn Umar, ia bertanya kepada Nabi: “Ya Rasulullah, apakah berwudhu dari wadah baru yang tertutup atau dari tempat-tempat wudhu yang lebih engkau senangi?” Rasulullah menjawab: “Tidak. Tapi dari tempat-tempat berwudhu”. Agama Allah adalah agama yang lurus dan mudah. Ibn Umar berkata: “Kemudian Rasulullah menuju tempat-tempat berwudhu dan beliau diberi air, kemudian meminumnya. Beliau mengharap berkah dan tangan-tangan umat Islam.” (HR. at Thabarani).
Sahabat Ngalap Berkah dari Gelas yang Pernah dipakai Rasulullah
عن أبي بردة قال قدمت المدينة فلقيني عبد الله بن سلام فقال لي انطلق إلى المنزل فأسقيك في قدح شرب فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم وتصلي في مسجد صلى فيه النبي صلى الله عليه وسلم فانطلقت معه فسقاني سويقا وأطعمني تمرا وصليت في مسجده
“Dari Abu Burdah, ia berkata bahwa ia mendatangi Kota Madinah. Abdullah bin Salam menemuinya. ‘Ikutlah mampir ke rumahku. Aku akan memberimu minum di gelas yang pernah dipakai oleh Rasulullah SAW. Kau pun bisa shalat di tempat sujud yang pernah dipakai Rasulullah SAW,’ kata Abdullah. ‘Aku berjalan bersama Abdullah. Ia memberiku minum beberapa teguk air dan memberiku butir kurma. Aku pun shalat di tempat shalatnya,’ kata Abu Burdah,” (HR Bukhari)
