Sahkah Berkorban dengan Uang?


Pada prayaan hari raya Idul Adlha, umat Islam disunnahkan melakukan ibadah korban. Biasanya, korban dilakukan dengan menyembelih hewan ternak, seperti sapi, kambing, unta dan lainnya. meskipun praktiknya ada yang dengan cara menyerahkan uang kepada panitia korban atau DKM masjid untuk dibelikan hewan korban yang akan disembelih. Praktik ini adalah akad wakalah, akad yang diperbolehkan dalam islam.

Jadi bukan berkorban dengan uang, karena praktiknya, setelah orang yang ingin berkorban menyerahkan uang senilai hewan korban yang dikehendaki, lalu panitia korban atau DKM masjid membelikan hewan yang dikehendaki orang tersebut, kemudian baru disembelih, tentu ada iroqoh ad-dam (mengalirkan darah) yang menjadi aspek terpenting dalam ibadah korban dalam praktik tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin juz 2 hal. 381:

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (٢/ 381): اللهم هداية للصواب: في فتاوي العلامة الشيخ محمد بن سليمان الكردي محشي شرح إبن حجر على المختصر ما نصه: (سئل) رحمه الله تعالى: جرت عادة أهل بلد جاوى على توكيل من يشتري لهم النعم في مكة للعقيقة أو الأضحية ويذبحه في مكة، والحال أن من يعق أو يضحي عنه في بلد جاوى فهل يصح ذلك أو لا؟ أفتونا. (الجواب) نعم، يصح ذلك، ويجوز التوكيل في شراء الأضحية والعقيقة وفي ذبحها، ولو ببلد غير بلد المضحي والعاق كما أطلقوه فقد صرح أئمتنا بجواز توكيل من تحل ذبيحته في ذبح الأضحية، وصرحوا بجواز التوكيل أو الوصية في شراء النعم وذبحها، وأنه يستحب حضور المضحي أضحيته ولا يجب. 

Dalam kitab Fatawa Syekh Sulaiman al-Kurdi Muhasyyi Syarah Ibni Hajar ‘ala al-Mukhtashar terdapat suatu pertanyaan : Ditanyakan kepada beliau “Telah berlaku kebiasaan penduduk Jawa mewakilkan kepada seseorang agar membelikan ternak untuk mereka di Makkah sebagai aqiqah atau korban dan agar menyembelihnya di Makkah, sementara orang yang di aqiqahi atau qurbani berada di Jawa. Apakah hal demikian itu sah atau tidak ? Mohon diberikan fatwa jawabannya ! “. Ya, demikian itu sah. Diperbolehkan mewakilkan dalam pembelian hewan korban dan aqiqah dan juga penyembelihnya sekalipun tidak dilaksankan di negara orang yang berqurban atau beraqiqah….

Berbeda dengan praktik membagi-bagikan uang senilai harga hewan korban kepada orang-orang yang berhak menerima dengan niat berkorban. Ini yang tidak sah, meskipun tetap mendapat pahala sedekah (bukan pahala korban), seperti yang telah diputuskan dalam forum Muktamar NU di Situbondo pada 1984 M. dengan mengutip kitab Riyadlul Badi’ah karya Syekh Nawawi al-Bantani pada halaman 8 :

الرياض البديعة (ص 8) لاَ تَصِحُّ التَّضْحِيَّةُ إِلاَّ بِاْلأَنْعَامِ وَهِيَ اْلإِبِلُ وَالْبَقَرُ اْلأَهْلِيَّةُ وَالْغَنَمُ لأَنَّهَا عِبَادَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْحَيَوَانِ فَاخْتُصَّتْ بِالنَّعَمِ كَالزَّكَاةِ فَلاَ يُجْزِئُ بِغَيْرِهَا. وكذا في الموهبة (ج 4 ص 682) 

Korban tidak sah kecuali dengan hewan ternak, yaitu unta, sapi, atau kerbau dan kambing. Hal ini, karena korban itu terkait dengan hewan, maka dikhususkan dengan hewan ternak sama seperti zakat, sehingga tidak sah selain dengan hewan ternak. Hal senada dinyatakan oleh Zain ibn Ibrahim ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Bakr (926-970 H) di dalam Al-Bahr ar-Raiq, jilid II, h.238.:

قَيَّدَ الْمُصَنِّفُ بِالزَّكَاةِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ دَفْعُ الْقِيْمَةِ فِيْ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا وَالْعِتْقِ لِأنَّ مَعْنَى الْقُرْبَةِ إرَاقَةِ الدَّمِ وَذَلِكَ لَا يَتَقَوَّمُ 

Penyusun Kanz ad-Daqaiq membatasi (pembahasan mengenai boleh memberikan berupa harga) dalam kewajiban zakat, karena tidak boleh memberikan dalam bentuk harga atas kurban, hadyu dan memerdekakan budak karena esensi kurban adalah iroqoh ad-dam yang tidak dapat diukur dengan harga.

islamiro

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah NKRI

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak