-->

Obrolan Tentang Islam Nusantara


Di Indonesia mayoritas warganya beragama Islam. Organisasi-organisasi Islam tumbuh subur di sana, dari Hizbut Tahrir sampai Hizbut Tahlil, dari Wahabiyah sampai Sarkubiyah, dari Darmo Gandul sampai Goyang Inul. Ulama’nya juga macam-macam, ada ulama’ khos, ada ulama’ kes. Semua membuat kehidupan di Indonesia menjadi semakin hidup dan berwarna.

Perbedaan-perbedaan pemahaman di antara mereka sering terjadi, lebih-lebih saat menjelang bulan Romadlon dan bulan Syawal. Ada yang suka mainan kalkulator, ada yang suka mainan tropong. Ada yang terawih 20 Rokaat, ada yang mati urip (baca : kekeh) ikut yang 8 Rokaat. Ada yang meributkan bacaan sholawat atau bacaan-bacaan lain pada saat istirahat dalam terawih, sesatlah, bid’ahlah. Unik... Bahkan ada yang suka merazia warung-warung makan yang buka di siang bulan Romadlon.

Sekarang ini TOPIK yang lagi buming adalah ISLAM NUSANTARA. Dari intelejen yang saya sebar, pernah terjadi dialog pinggiran di warung Bik Ijah, tentang Islam Nusantara.
  • Syam: Gak usah neko-neko buat istilah Islam Nusantara segala, Islam itu ya ROHMATAL LIL ‘ALAMIN ada dalil qur’annya, kalo Islam Nusantara apa ada dalilnya, Ngaco!...
  • Sule: Istilah Islam Nusantara itu hanya mengkerdilkan ma’na Islam saja. Nanti orang-orang Nusantara yang ada di luar negeri yang masih jama’ah kita bagaimana?
  • Tole: Iya Mas, terus nanti kalau ada yang mati kita kafani dengan kain batik, gitu??? Itu ukorone JIL. Lanjut Tole.
  • Rohim: ISLAM NUSANTARA itu kan Cuma istilah, Kita jangan berkutat terus pada istilah, namun lebih-lah pada substansi. Supaya umat Islam di Indonesia ini akan lebih saling menerima, dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat bukan laknat.
  • Ridlo: Iyo mas Rohim tak dukung, waktu di pesantren dulu kita kan di ajari tentang Idlofah, ada idlofah bima’na fii, ada idlofah bima’na min dan ada idlofah bima’na lam. Lha istilah ISLAM NUSANTARA ini adalah idlofah yang bima’na fii, jadi artinya “Islam yang ada di Nusantara” yang diajarkan Walisongo. “Islam ngono iku seng digoleki, Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan (tidak mentang-mentang), dan yang rahmatan lil ‘alamin,
Mendengar laporan intelegen yang saya sebar itu, saya hanya manggut-manggut, "Jane, kalo mendengar opo wae seng durung jelas ki kudune CHUSNUZH ZHON terus TABAYUN (klarifikasi) biar nggak semrawut". Lalu saya nyeruput kopi dan menghisap tegesan (buntung rokok) tadi siang. Mantaaaabbbb..... MERDEKA... SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMERDEKAAN KE 70.

Gerning, Kemerdekaan RI 2015

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Author Details